silat tradisional
SENI MAEN PUKULAN

    

                                                                                                                                                  

ASLI BETAWI

                                                                                                                                            

 

    

                                                                                                                                                        

SABENI TENABANG

 

 

 

    

     

SEJARAH PENDEKAR SABENI

Pada abad 19 dulu, ada seorang pendekar di Tenabang (sebutan Tanah Abang dalam logat Betawi) yang selalu membela rakyat kecil yang ditindas oleh penjajah, Pendekar Sabeni namanya. Pendekar Sabeni lahir sekitar tahun 1860 di Kebon Pala Tanah Abang dari orang tua bernama Canam dan Piyah.

Nama Sabeni mulai dikenal luas setelah Sabeni mampu mengalahkan salah satu jagoan di daerah Kemayoran yang dijuluki Macan Kemayoran ketika hendak melamar puteri si Macan Kemayoran tersebut untuk dijadikan isterinya.

Selain itu ada peristiwa lain dimana Sabeni berhasil mengalahkan dengan telak Jago Kuntau dari Cina di Princen Park (sekarang bernama Lokasari) yang sengaja didatangkan oleh penjajah Belanda bernama Tuan Danu yang tidak menyukai aktivitas Sabeni dalam melatih para pemuda Betawi bermain silat atau maen pukulan.

Oleh penjajah Belanda akhirnya Sabeni diangkat menjadi seorang Serehan (sebutan untuk kepala kampung) di Tenabang.

Bahkan dalam usianya yang tergolong lanjut (83 tahun) Sabeni juga masih sanggup mengalahkan jago-jago beladiri Jepang yang sengaja didatangkan oleh penjajah Jepang untuk bertarung melawannya.

Jepang yang ketika itu tengah berperang melawan Sekutu memerlukan para pemuda Indonesia untuk dijadikan Heiho (semacam tenaga sukarelawan untuk membantu para prajurit Jepang). Salah satu putra belia Sabeni yang bernama Sapi’ie juga diharuskan menjadi Heiho seperti halnya para pemuda lainnya. Dan ia pun ditempatkan di Surabaya.

Karena tidak tahan menghadapi perlakuan tentara Dai Nippon, Sapi’ie akhirnya melarikan diri dari Surabaya dan bersembunyi di rumah orangtuanya. Tentu saja pihak Kempetai (Polisi Rahasia Jepang) tidak tinggal diam dan terus mencari keberadaannya.

Karena Sapi’ie tidak juga tertangkap, sekitar tahun 1943 Kempetai akhirnya menahan Sabeni sebagai jaminan. Mengetahui Sabeni yang tersohor sebagai pendekar jago silat, Kempetai pun lantas ingin mengujinya. Komandan Kempetai mendatangkan beberapa ahli beladiri langsung dari Jepang dan menantang Sabeni untuk diadu dalam duel di Markas Kempetai di Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Singkat cerita, Sabeni kemudian melawan satu per satu ahli beladiri Jepang itu dan berhasil mengalahkan mereka semua dengan menggunakan salah satu jurusnya yang terkenal yaitu jurus Kelabang Nyeberang. Tentara Jepang pun terkesima dengan kemampuan silat Sabeni dan tak lama setelah Pendekar Sabeni dan Sapi’ie dibebaskan, salah seorang komandan tentara Jepang tersebut datang ke rumah Sabeni untuk menawarkan Sabeni agar melatih tentara khusus mereka di Jepang. Namun karena usia Sabeni yang sudah terlalu tua untuk bepergian dan melatih ketika itu (83 tahun), maka dikirimlah murid kepercayaan Sabeni yang bernama Salim untuk berangkat ke Jepang. Sabeni pun kembali menjalani hari-harinya di tanah kelahirannya, Tanah Abang.

 

 

 

 

 

 

                                  

 

  < kong Salim ketika melatih pasukan khusus di Jepang sekitar th 1943 >

Pendekar Sabeni mengisi hari tuanya dengan melatih warga yang ingin belajar silat darinya. Ia mengajar maen pukulan ke hampir seluruh penjuru kota Jakarta hingga meninggal dunia dengan tenang dan didampingi oleh para murid dan anak-anaknya pada hari Jumat tanggal 15 Agustus 1945 atau tepatnya 2 hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dalam usia 85 tahun. Sabeni dimakamkan di Jalan Kubur Lama Tanah Abang yang kemudian atas upaya salah satu putranya yang bernama M. Ali Sabeni, oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta jalan tersebut diganti namanya menjadi Jalan Sabeni. Saat ini makam Pendekar Sabeni telah dipindahkan ke TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat yang lokasinya berdekatan dengan makam almarhum M.H.Thamrin salah seorang tokoh Nasional yang juga berasal dari DKI Jakarta.

 

Hubungi :

+62-857-1969-0884

 

PETA
 

 

sabenitenabang@yahoo.com

Seni Maen Pukulan Sabeni Tenabang  < Zul Bachtir >

Kantor Kecamatan Tanah Abang Jl. K.H.Mas Mansyur No. 130,

Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang,

Jakarta Pusat 10230, Indonesia
                 

              +62-857-1969-0884                

 

 

 

ALAMAT
@ 2017 by sabenitenabang.com